Satu tahun setelah kehilangan Abah, Bhre Amari—mahasiswa Pendidikan Agama Islam yang juga bekerja sebagai jurnalis—terjebak di persimpangan antara surat peringatan drop out dan bayang-bayang masa lalunya sebagai wartawan yang pernah diburu karena meliput sengketa agraria di Pulau Sangiang. Skripsi yang bertahun-tahun ia tunda mengharuskannya menelusuri sosok KH. Ali Jaya, ulama Al-Khairiyah yang hampir hilang dari ingatan Cilegon.
Pencarian itu membawanya menyusuri Kampung Delingseng, rak-rak perpustakaan tua, dan kesaksian orang-orang yang mengenal sang kiai lewat cerita turun-temurun: tentang karomah yang diyakini warga, perannya membebaskan lahan untuk kawasan industri Krakatau Steel, dan tuduhan yang tidak pernah benar-benar terjawab. Di sela wawancara dan arsip berdebu, Bhre justru menemukan sesuatu yang lebih pribadi—jejak Abahnya sendiri, seorang santri KH. Ali Jaya yang selama ini jarang benar-benar ia dengarkan.
Jejak Kiyai Baja merangkai sejarah Al-Khairiyah, transformasi Cilegon dari kampung nelayan menjadi kota baja, dan pergulatan seorang anak muda mencari makna warisan, kehilangan, dan tanggung jawab menjaga ingatan yang nyaris padam.





Ulasan
Belum ada ulasan.