Jejak Kiyai Baja: Pengabdian KH. Ali Jaya dalam Menjaga Nyala Al-Khairiyah di Tengah Transformasi Cilegon menjadi Kota Industri

Novel sejarah tentang pencarian jejak KH. Ali Jaya, ulama Al-Khairiyah yang ikut membentuk Cilegon, lewat mata seorang mahasiswa jurnalis yang sedang berdamai dengan kehilangan Abahnya sendiri.

Kalau perlu versi lebih pendek lagi untuk keperluan tertentu (misalnya caption media sosial atau sinopsis satu kalimat untuk katalog toko buku), beri tahu saya panjang dan tujuannya, nanti saya sesuaikan.

Kategori:

Satu tahun setelah kehilangan Abah, Bhre Amari—mahasiswa Pendidikan Agama Islam yang juga bekerja sebagai jurnalis—terjebak di persimpangan antara surat peringatan drop out dan bayang-bayang masa lalunya sebagai wartawan yang pernah diburu karena meliput sengketa agraria di Pulau Sangiang. Skripsi yang bertahun-tahun ia tunda mengharuskannya menelusuri sosok KH. Ali Jaya, ulama Al-Khairiyah yang hampir hilang dari ingatan Cilegon.

Pencarian itu membawanya menyusuri Kampung Delingseng, rak-rak perpustakaan tua, dan kesaksian orang-orang yang mengenal sang kiai lewat cerita turun-temurun: tentang karomah yang diyakini warga, perannya membebaskan lahan untuk kawasan industri Krakatau Steel, dan tuduhan yang tidak pernah benar-benar terjawab. Di sela wawancara dan arsip berdebu, Bhre justru menemukan sesuatu yang lebih pribadi—jejak Abahnya sendiri, seorang santri KH. Ali Jaya yang selama ini jarang benar-benar ia dengarkan.

Jejak Kiyai Baja merangkai sejarah Al-Khairiyah, transformasi Cilegon dari kampung nelayan menjadi kota baja, dan pergulatan seorang anak muda mencari makna warisan, kehilangan, dan tanggung jawab menjaga ingatan yang nyaris padam.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Jejak Kiyai Baja: Pengabdian KH. Ali Jaya dalam Menjaga Nyala Al-Khairiyah di Tengah Transformasi Cilegon menjadi Kota Industri”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *